Posts

Melasti Desa Pakraman Kerobokan Th. 2017

Image
Melasti  adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya  Nyepi  oleh seluruh umat Hindu  di  Bali . Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Upacara Melasti dilaksanakan di pinggir  pantai  dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke  laut .Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau , dan laut dianggap sebagai air kehidupan  (tirta amerta) .   Selain melakukan persembahyangan, upacara Melasti juga adalah pembersihan dan penyucian benda sakral milik  pura  (pralingga atau pratima Ida Bhatara dan segala perlengkapannya).   Benda-benda tersebut diarak dan diusung mengelilingi desa.  Hal ini dimaksudkan untuk menyucikan desa.   Dalam upacara ini, masyarakat dibentuk berkelompok ke sumber-sumber  air  seperti danau dan laut.   Satu kelompok berasal dari wilayah atau desa yang sa...

Video Wedding Gede Pande Th 2017

Image

Wedding Km Juni Artana Th.2016

Image

Ngaben Masal Warga Pande Th. 2016

Image
Ngaben  merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Beberapa pengertian dari Ngaben, sebagai berikut : 1. Ngaben secara etimologis berasal dari kata api  yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). 2. Versi lain mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke  Sunia Loka . 3. Versi lain, Ngaben berasal dari nge - "abu" - in. Disandikan menjadi Ngaben, merupakan upacara pengembalian unsur tubuh kepada unsur alam. Akhir-akhir ini banyak sekali Desa Pakraman me...

Sejarah Dadia Pande di Desa Kerobokan

Image
Desa kerobokan terletak di kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Seluruh penduduknya beragama Hindu dan sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. Selain itu juga ada sekelompok masyarakat memiliki profesi sebagai pandai besi atau di Bali dikenal dengan klen/soroh Pande. Klen/soroh pande merupakan sekelompok keluarga yang memiliki keahlian sebagai perajin logam seperti emas, besi, perunggu dan jenis logam lainnya. Biasanya kelompok ini terdapat di masing-masing desa di Bali. Kelompok pande yang terdapat di Desa Kerobokan berasal dari Kabupaten Karangasem tepatnya dari Desa Basangalas dan Desa Culik, Bali. Secara tertulis tidak disebutkan kapan kelompok pande mendiami Desa Kerobokan, namun menurut penuturan dari tokoh-tokoh setempat, klen/soroh Pande sudah ada di Desa Kerobokan saat Gunung Agung pertama kali meletus yaitu pada tahun 1800. Kemungkinan pada saat itu mereka ingin menyelamatkan diri  ke daerah barat yaitu Buleleng, mengingat pada saat itu terjadi ker...

Bhisama Pande Ke-6

Bhisama Keenam Tata Cara Pediksan Sira Mpu Pande Bhisama ini mengenai tata cara pediksan warga Pande menjadi sulinggih yang kemudian bergelar Sira Mpu Pande. Diawali dengan cerita Brahmana Dwala berkeinginan menjadi sulinggih, seperti terungkap dalam banyak babad Pande. Ganti gumanti ikang kala, hana hyun ira sang Brahmana Dwala madwijati. Rinasa-nasa ring ati tan ana pinaka gurun ira.  Irika Brahmana Dwala masamadi masamahita, ngastuti Bhagawan Pandya Bumi Sakti, sang sampun mur ring acintya, minta anugraha. Ring sampun lam winang ing Bhatara kawitan ira, makarya ira arca linggan Bhagawan Pandya Bumi Sakti, katekeng pralinggan strin ira Dyah Amertatma, putrin ira sang Buda. Kalinggihang ring sajeroning padmasana. Irika sang Brahmana Dwala mamujastawa, minta nugraha madwijati saha widi widana. Artinya: jaman silih berganti, setelah dewasa timbulah niat Brahmana Dwala madwijati. Rasanya tidak ada yang patut dipakai sebagai guru nabenya. Kemudian Brahmana Dwala melakukan sa...

Bhisama Pande Ke-5

Bhisama Kelima Tentang Pesemetonan Warga Pande Bhisama kelima adalah Bhisama yang Mpu Siwa Saguna Kepada Brahmna Dwala, di Pura Bukit Indrakila, sebagai berikut; ”Mangkana kengeta, aja lali wruhakena wwang sanakta kabeh. Kita sadaya ajwa lupa ring kajaten, duk ring Yambhu dwipa turun ka Yawa dwipa, tan len Sira Mpu Brahma Wisesa kawitan sira Pande kang ana wayeng Bali-pulina. Kita mangke asanak ring Pande kabeh. Aywa ngucap ming telu, sadohe ming ro. Tan ana sor tan ana luhur, tunggal pwa witnis nguni, kadi anggan ing pang ning kayu-kayu mara jatin ira. Ana awah ana juga tan pawah. Kalingania mangkana juga kita asanak, tan dai angadol kadang. Aja amumpang laku, aywa arok ring wwang  hina-laksana”. (ingatlah selalu, jangan lupa dengan seluruh keluargamu. Kita tidak boleh lupa dengan jati diri, sejak dari India, sampai ke pulau Jawa, tidak lain Mpu Brahma Wisesa leluhurmu termasuk yang ada di pulau Bali. Kalian semuanya keturunan Pande. Kalian adalah sedarah daging. Jangan ...